adalah kakak kandung
Nabi Musa. Kisahnya di dalam
Al- Qur'an selalu disebut
bersama dengan kisah adiknya
itu. Ia mendampingi Nabi Musa
menemui Fir'aun untuk meminta
agar Fir'aun melepaskan Bani
Israil dari perbudakan
(
Q.20:42-48 ). Mereka
menyampaikan wahyu Tuhan
kepada raja Mesir itu, dan
mengingatkannya serta
meluruskan jalan hidupnya yang
melampaui batas (tidak rela
melepaskan Bani Israil dari
perbudakan) serta menyimpang
dari ajaran Allah Swt. Dengan
lemah lembut, Musa dan Harun
menghadapi keangkuhan
Fir'aun yang mengaku diri
tuhan. Akhirnya Musa dan
Harun berhasil membawa keluar
Bani Israil dari Mesir. Ketika
sampai di sekitar Gunung Sinai,
Nabi Musa meninggalkan Bani
Israil selama 40 hari untuk
menemui Tuhan di puncak
Gunung Sinai, Harun diserahi
tugas menjaga kaumnya. Ia
sempat mengingatkan mereka
karena menyembah berhala
lagi. Ia wafat lebih dulu dari
Nabi Musa dan dikuburkan di
Bukit Hur di Gurun Sinai.
FASIH BERBICARA
Harun memiliki kemampuan
berbahasa lebih fasih daripada
adiknya. Karena itu, Musa
memohon kepada Allah Swt.
agar mengutus Harun
mendampinginya menemui
Fir'aun. Permohonan itu
dimaksudkan untuk
membenarkan kata- kata yang
disampaikan Musa, karena ia
khawatir Fir'aun akan
mendustakannya (
Q.28:34-35 ).
NABI DAN RASUL
Harun diangkat oleh Allah Swt.
menjadi nabi dan rasul untuk
membantu tugas kerasulan Nabi
Musa. Ketika hendak
mendatangi Fir'aun, mereka
diperintahkan oleh Allah Swt.
agar mengaku sebagai utusan
Allah Swt. kepada Fir'aun.
Mereka menghadap Fir'aun
dengan berbekalkan bukti-
bukti kerasulan mereka dari
Tuhan (
Q.20:47-48 ).
LOH TAURAT
Setelah pulang dari Gunung
Sinai, Musa marah kepada
kaumnya dan menegur
kakaknya, Harun. Karena
demikian marah dan sedih,
seperti diceritakan Al-Qur'an,
Musa melemparkan loh-loh
(Taurat) yang baru diterimanya
dari Tuhan dan memegang
rambut kepala Harun, sambil
menariknya ke arahnya.
Sesudah amarahnya reda,
barulah diambilnya kembali loh-
loh (Taurat) itu, karena di dalam
tulisannya terdapat petunjuk
dan rahmat untuk orang-orang
yang takut kepada Tuhan
(
Q.7:150-154 ).
SAMIRI
Ketika hendak menerima wahyu
Allah Swt. di Gunung Sinai,
Harun diserahi amanah oleh
Musa untuk memimpin Bani
Israil (
Q.7:142 ). Selama ditinggal
oleh Musa, kaumnya membuat
kekacauan. Dalam suasana itu,
muncul Samiri yang mengaku
layak menjadi pemimpin Bani
Israil. Ia membuat patung anak
lembu dari emas sebagai
sesembahan. Melihat kaumnya
menjadi kufur, Harun
mengingatkan kesesatan
mereka. Ia berusaha
menghentikan kekufuran
kaumnya, namun hati mereka
benar-benar keras.
(sumber: Ensiklopedi Islam
untuk Pelajar - no.2)
Nabi Daud a.s.